Intel Produksi “Chipset Mobile” Berbasis ARM

Intel bakal memproduksi chipset berbasis arsitektur ARM. Pabrikan asal Santa Clara itu telah meneken lisensi kesepakatan dengan kompetitornya tersebut.

Hal itu diumumkan Intel dalam ajang tahunan “Intel Developer Forum” di San Francisco, AS, sebagaimana dilaporkan TheVerge dan dihimpun KompasTekno, Selasa (30/8/2016).

Diketahui, mayoritas vendor chipset mobile saat ini memanfaatkan arsitektur 64 bit buatan ARM. Beberapa di antaranya adalah Apple, Qualcomm, dan Nvidia.

Upaya Intel merangkul ARM tak lain untuk menarik minat para manufaktur chipset tersebut. Lebih tepatnya, Intel berperan memperluas opsi produksi bagi vendor chipset dalam memanfaatkan teknologi ARM.

“Saya pikir ini akan membuat perbedaan nyata di industri. Ini sangat masuk akal,” kata General Manager Divisi Desain ARM, Will Abbey.

Contoh kasusnya, Apple saat ini memproduksi chipset berbasis ARM yang dirancang oleh Taiwan Semiconduktor Manufacturing Co (TSMC). Dengan kesepakatan Intel-ARM, tak menutup kemungkinan Apple bakal beralih ke Intel untuk merancang jeroan bagi perangkatnya tersebut.

Sekoci yang terlambat?

Menurut beberapa pengamat, kesepakatan Intel-ARM kembali menandai kegagapan Intel di industri mobile. Perusahaan itu sebelumnya lebih dikenal sebagai pabrikan semikonduktor PC.

Seiring dengan pertumbuhan permintaan perangkat mobile dan penurunan minat PC, Intel dinilai tergopoh-gopoh beralih ke industri mobile alias terlambat menyiapkan sekoci.

Meski demikian, strategi baru Intel ini tak bisa dipandang sebelah mata. Pada kasus Apple, Intel bisa saja melengserkan posisi Samsung dan TSMC yang selama ini dikenal sebagai perancang chipset untuk gadget Apple.

Harga Galaxy Note 7 RAM 6 GB Capai Rp 14 Juta?

Samsung meluncurkan Galaxy Note 7 dengan varian RAM 4 GB dan memori 64 GB di China, pekan lalu. Pabrikan Korea Selatan itu dikabarkan akan merilis pula Galaxy Note 7 varian RAM 6 GB dengan memori 128 GB.

Kabar itu diperkuat gambar cetakan kotak paket Galaxy Note 7 yang tersebar di ranah maya. Pada cetakan tersebut, terpatri spesifikasi RAM 6 GB dan memori 128 GB.

Menurut sumber yang membocorkan gambar itu, varian RAM jumbo Galaxy Note 7 akan dihargai 1048 dollar AS atau setara Rp 14 juta, sebagaimana dilaporkan PhoneArena dan dihimpun KompasTekno, Rabu (31/82016).
View image on Twitter
View image on Twitter
Follow
Avinash @avinashiitd
Samsung Galaxy Note 7 6 GB RAM variant coming soon
10:32 PM – 29 Aug 2016
1 1 Retweet 1 1 like

Informasi itu belum dikonfirmasi pihak Samsung global. Sebelumnya, saat peluncuran Galaxy Note 7 untuk pasar Indonesia pada minggu lalu, Samsung memastikan varian 6 GB tak bakal hadir di Tanah Air.

Baca: Galaxy Note 7 Versi RAM 6 GB Bakal Dijual di Indonesia?

Samsung berdalih pilihan RAM 4 GB dengan memori 64 GB sudah cukup mengakomodir kebutuhan rata-rata masyarakat Indonesia. Semua teknologi di Galaxy Note 7 sudah bisa dijalankan dengan RAM dan memori berkapasitas demikian.

Spesifikasi Galaxy Note 7 kebanyakan mirip dengan duet Galaxy S7 dan S7 Edge, baik dari segi kamera, prosesor, dan kapasitas RAM. Hanya saja, seri Note dilengkapi S Pen yang kini lebih sensitif dan memiliki kemampuan anti-air bersertifikasi IP68.

Dari segi keamanan, Galaxy Note 7 dilengkapi sensor pemindai sidik jari (fingerprint scanner) dan pemindai iris (iris scanner).

Spesifikasi lainnya meliputi pelindung Corning Gorilla Glass 5, baterai 3.500 mAh, RAM 4 GB, kamera 12 megapiksel dan 5 megapiksel, memori internal 64 GB, slot microSD, serta dukungan terhadap Gear VR dan Gear Fit 2.

Galaxy Note 7 Batal Datang 1 September, Ini Kata Samsung Indonesia

Pemesan Galaxy Note 7 di Indonesia yang telah melakukan pre-order pada tanggal 5 Agustus hingga 21 Agustus harus menunggu lebih lama sebelum mendapatkan smartphone teranyar dari Samsung itu.

Tanggal pengambilan unit ditunda dari 1 September 2016 menjadi 17 September 2016. Hal tersebut diterangkan oleh Samsung melalui e-mail yang dilayangkan ke para pemesan, minggu ini.

Saat dihubungi oleh KompasTekno, pihak Samsung Indonesia membenarkan sekaligus meminta maaf kepada konsumen atas penundaan tersebut.

“Tanggal pengambilan terpaksa diundur menjadi 17 September. Kami tetap memprioritaskan konsumen yang telah melakukan pre-order,”ujar Marketing Director IT & Mobile Samsung Indonesia, Vebbyna Kaunang, melalui sambungan telepon.

Vebbyna menjelaskan penundaan terjadi lantaran Samsung kesulitan memenuhi angka permintaan yang tinggi terhadap Galaxy Note 7. “Pre-order dari seluruh dunia melampaui ekspektasi Samsung. Jadi, mau tidak mau kami harus melakukan penyesuaian ketersediaan barang,” imbuhnya.

Galaxy Note 7 untuk pasar Indonesia dirakit di fasilitas pabrik Samsung di kawasan industri Cikarang, Bekasi. Meski demikian, penundaan tetap terjadi karena sebagian komponen yang diperlukan masih harus didatangkan dari luar Indonesia. “Sebab, permintaan pasar lebih tinggi daripada yang kami siapkan di awal,” ujar Vebbyna.

Menurut dia, selain Indonesia, konsumen di sejumlah negara lain juga mengalami penundaan serupa. Pekan lalu, kantor pusat Samsung di Korea Selatan memang pernah menyebutkan bahwa peluncuran Galaxy Note 7 bakal diundur di beberapa wilayah, termasuk Asia dan Eropa.

Vebbyna mengaku belum bisa memastikan apakah jadwal penjualan Galaxy Note 7 di pasaran Indonesia akan ikut tertunda atau tidak. “Nanti akan kami infokan lagi. Yang jelas, konsumen yang telah melakukan pre-order adalah prioritas utama kami,” katanya.

Di Indonesia, Samsung Galaxy Note 7 dijual dengan harga Rp 10.777.000 untuk varian dengan memori internal 64 GB. Perangkat itu ludes dipesan hanya dalam waktu tiga hari sejak masa pre-order dibuka.

Galaxy Note 7 Tertunda di Indonesia, Samsung Siapkan Kompensasi

Lantaran kesulitan memenuhi animo konsumen yang tinggi, Samsung menunda tanggal pengambilan unit Galaxy Note 7 bagi para pemesan di Indonesia dari tanggal 1 September 2016 menjadi 17 September 2016.

Untuk mengobati kekecewaan pemesan yang terpaksa menunggu lebih lama sebelum mendapatkan ponsel teranyar itu, Marketing Director IT & Mobile Samsung Indonesia, Vebbyna Kaunang menyatakan pihaknya sedang menyiapkan “kompensasi” untuk para konsumen Indonesia yang telah melakukan pre-order.

Saat ditanya lebih jauh, dia enggan merinci seperti apa tepatnya bentuk kompensasi yang dimaksud. “Nanti, kompensasinya bisa ikut didapatkan saat mengambil unit Galaxy Note 7,” kata Vebbyna saat dihubungi KompasTekno melalui telepon, Selasa (31/8/2016).

Sebelumnya, Samsung mengumumkan penundaan tanggal pengambilan unit pre-order di Indonesia melalui e-mail yang dilayangkan ke para pemesan.

Perangkat tersebut menarik minat tinggi di seluruh dunia sehingga Samsung terpaksa melakukan penyesuaian jadwal ketersediaan di sejumlah negara lain di luar Indonesia, antara lain di wilayah Asia dan Eropa.

“Pre-order dari seluruh dunia melampaui ekspektasi Samsung. Jadi, mau tidak mau kami harus melakukan penyesuaian ketersediaan barang,” terang Vebbyna.

Di Indonesia, Galaxy Note 7 yang dijual seharga Rp 10.777.000 (versi 64 GB) semasa pre-order ludes dalam waktu tiga hari semenjak pemesanan dibuka pada 5 Agustus lalu.

Lebih lanjut, Vebbyna mengatakan konsumen yang memiliki pertanyaan soal Galaxy Note 7 bisa menghubungi call center Samsung Indonesia di nomor toll free 0-800-112-8888 atau (021) 5699-7777. Bisa juga melalui layanan live chat di situs Samsung Indonesia.

BlackBerry Cari “Utangan” Rp 8 Triliun dari Investor

BlackBerry bakal menjual surat utang alias obligasi ke sejumlah pemegang saham. Perusahaan Waterloo tersebut berharap dapat mengumpulkan dana segar sebesar 605 juta dollar AS atau sekitar Rp 8 triliun.

Instrumen utang baru itu memiliki bunga 3,75 persen dan jatuh tempo pada 2020 mendatang, sebagaimana dilaporkan Android Headlines dan dihimpun KompasTekno, Rabu (31/8/2016).

Surat utang yang dijual BlackBerry berjenis obligasi konversi sehingga pembeli bisa menukarkannya dengan saham. Adapun saham yang dikonversi setara dengan 11,5 persen saham BlackBerry yang beredar di pasaran saat ini.

Salah satu perusahaan yang berminat membeli obligasi BlackBerry adalah Fairfax Financial Holdings. Perusahaan asuransi tersebut tercatat sebagai salah satu pemegang saham mayoritas BlackBerry saat ini.

Saat ini Fairfax memegang lebih kurang 9 persen dari total saham BlackBerry. Angka itu menjadikannya sebagai perusahaan pemegang saham BlackBerry terbesar kedua.

Bisnis Fairfax sendiri diketahui kurang baik beberapa waktu terakhir. Perusahaan tersebut sedang menjalankan “situasi pemulihan” dan tampaknya berangsur membaik.

Selain Fairfax, belum jelas pemegang saham mana lagi yang berminat membeli surat utang BlackBerry. Vendor ponsel yang pernah berjaya di pertengahan 2000-an itu juga tak mengungkap rencana selanjutnya setelah mengantungi dana segar.

CEO BlackBerry, John Chen, mengatakan perusahaannya bakal melakukan inovasi-inovasi baru agar kembali mencetak profit. Ia mematok target hingga September untuk menetapkan arah BlackBerry selanjutnya.

Diketahui, kejayaan BlackBerry di industri smartphone sudah jauh terjadi sebelum vendor-vendor semacam Apple, Samsung, dan Huawei merajai industri ini. Beberapa upaya telah dilakukan BlackBerry untuk kembali menduduki posisinya yang dulu, seperti mengadopsi OS Android. Namun, hingga kini strategi tersebut belum menunjukkan tanda-tanda keberhasilan.

Tarif Baru Interkoneksi Batal Ditetapkan 1 September?

Keputusan terhadap penurunan tarif interkoneksi kemungkinan bakal tertunda. Rencana awal “ketok palu” tarif baru interkoneksi tersebut akan dilakukan 1 September besok. (Baca: Belum Kelar sejak 2015, Tarif Interkoneksi Diminta Segera Dipastikan)

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) meminta agar Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menunda penetapan perhitungan tarif baru interkoneksi seiring dengan perubahan jadwal rapat kedua pembahasan tarif interkoneksi.

Semula, Komisi 1 DPR menjadwalkan Rapat Dengar Pendapat (RDP) kedua dengan Menkominfo pada Selasa (30/8/2016) kemarin. Rapat tersebut terpaksa ditunda dan dijadwal ulang untuk pekan depan.

“Kemarin rencananya (RDP) jam 13.00, akan tetapi bertabrakan dengan (rapat) paripurna yang diundur ke jam 12.30. Karena itu rapat dengan Menkominfo ditunda untuk dijadwalkan kembali,” terang Ketua Komisi 1 DPR Abdul Kharis Almayshari pada KompasTekno, Rabu (31/8/2016).

“(Jadwal RDP kedua) Setelah Pak Menteri pulang dari luar negeri bersama RI 1 (Presiden Joko Widodo),” imbuhnya.

“Kami minta kepada menteri agar ditunda sampai terlaksananya rapat Komisi 1 dengan Menkominfo, sebagaimana kesimpulan rapat kerja terahir dengan Menkominfo,” pungkas Abdul.

Sebelumnya, Rudiantara sempat merilis surat edaran berisi perhitungan penurunan tarif interkoneksi yang baru. Dari 18 skenario panggilan, terdapat penurunan rata-rata 26 persen. Salah satunya adalah panggilan telepon yang semula bertarif Rp 250 per menit, turun menjadi Rp 204 per menit. (Baca: Kemenkominfo Tetapkan Tarif Interkoneksi Baru)

Tarif interkoneksi merupakan biaya yang dibayarkan antar-operator. Misalnya, saat pengguna operator A menelepon operator B, maka operator A dikenai tarif interkoneksi sesuai dengan perhitungan yang berlaku. Namun, tarif interkoneksi hanya merupakan salah satu komponen penentu tarif telepon retail. (Baca: Tarif Interkoneksi Turun, Telepon Beda Operator Jadi Murah?)

Meski sudah ditetapkan, surat edaran tersebut baru sebagai pemberitahuan saja agar operator menyiapkan sistem billing mereka. Rudiantara berencana menerapkannya dalam sebuah aturan yang akan rilis pada 1 September 2016 setelah pembahasan dengan operator dan pihak terkait.

Selanjutnya, pada Rabu (24/8/2016), Komisi 1 DPR mengadakan RDP dengan Menkominfo untuk membahas mengenai rencana penetapan perhitungan interkoneksi yang baru. Dalam RDP dibahas berbagai hal, antara lain soal risiko kerugian negara dari penurunan tarif interkoneksi, hingga alasan dan runutan proses perhitungan ulang tarif interkoneksi.

Dalam RDP pertama ini, Menkominfo dan Komisi 1 DPR sepakat untuk menunda implementasi perhitungan penurunan tarif interkoneksi, hingga selesainya pertemuan kedua.

Selanjutnya, pada Kamis (25/8/2015), giliran DPR mengundang seluruh operator, yaitu Telkomsel, Telkom, Smartfren, XL Axiata, Indosat Ooredoo, dan Hutchison Tri Indonesia. Masing-masing operator hadir dan diminta menjelaskan pada DPR terkait tanggapan dan harapan soal penurunan tarif interkoneksi ini. (Baca: Telkom-Telkomsel Tolak Tarif Baru Simetris, Operator Lain Setuju)

Rudiantara, pada Senin (29/8/2016), juga sempat mengumpulkan seluruh operator di kantornya untuk mendengarkan masukan mereka terkait tarif interkoneksi. Namun tidak ada keputusan apapun yang dikeluarkan setelah pembahasan tersebut. (Baca: Bahas Interkoneksi dengan Menkominfo, Ini Kata Operator)